Berita

[64] Begal Payudara di Yogya Juga Terjadi Tahun Lalu, Pelakunya Sama?

Aksi bejat begal payudara di kawasan Prawirotaman, Yogyakarta yang terjadi pada bulan Juni 2019 terungkap. Seorang guru honorer pelakunya. Lalu bagaimana dengan kasus serupa di lokasi yang sama pada tahun lalu?

Kasus begal payudara yang menyasar turis asing di kawasan Prawirotaman bukan hanya ini saja. Dalam catatan detikcom, aksi bejat yang sama sempat terekam CCTV yang terpasang di salah satu hostel di daerah itu pada Minggu 4 November 2018 malam.

Pemilik hostel, Yudhistira (26) mengatakan bahwa peristiwa itu dilaporkan oleh karyawannya.

Sang karyawan tiba-tiba menelepon Yudhistira yang saat itu sedang tak berada di hostel.

"(Karyawan) tanya bisa lihat rekaman CCTV tidak. Dia bilang baru saja ada bule perempuan jalan di depan hostel tiba-tiba berteriak keras sekali," cerita pemilik hostel, Yudhistira (26) saat dihubungi detikcom, Jumat (9/11).

"Saya lihat ternyata betul, habis dicimol (dipegang payudaranya) oleh orang yang naik motor," terang Yudhis.

Kondisi gang sepi dari lalu lalang motor atau pejalan kaki. Yudhis mengaku bule itu bukan tamu hostelnya. Dia pun belum mengetahui persis identitas bule tersebut.

Peristiwa itu kemudian dilaporkan Yudhis kepada polisi. Polisi juga sudah datang ke hostelnya untuk memeriksa rekaman CCTV dan lokasi kejadian. Rekaman CCTV itu juga viral di media sosial.

Meski bisa membuat laporan polisi model A, polisi sempat mengeluarkan imbauan kepada korban untuk melapor.

Baca juga: Sebulan Berlalu, Begal Payudara Turis di Yogya Masih Gentayangan
"Kalau tidak melapor, dari mana penyidik akan mengetahui siapa identitas korban? Juga keterangan soal kronologi kejadian, dari korban juga dari saksi-saksi, untuk melengkapi berkas perkara," kata Kabid Humas Polda DIY, AKBP Yuliyanto, saat dihubungi detikcom, Senin (12/11).

Berbagai pihak angkat bicara soal kasus tersebut. Mulai dari Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY yang mengecam aksi tersebut dan menyebutnya sebagai paristiwa yang menodai citra pariwisata Yogyakarta.

Wali Kota Yogyakarta, Haryadi Suyuti juga mendorong polisi untuk menangkap pelakunya. Dia meminta masyarakat untuk proaktif melaporkan kejadian di sekitarnya.

Lokasi begal payudara di Yogyakarta yang terjadi pada November 2018. Lokasi begal payudara di Yogyakarta yang terjadi pada November 2018. Foto: Usman Hadi/detikcom
"Bukan hanya turis, (begal payudara) terhadap warga masyarakat (lokal) juga enggak boleh. Masyarakat mendapatkan perlakuan seperti itu (begal payudara) enggak boleh," tegasnya.

"Inilah yang harus dijaga, makanya ada RT, ada RW, kelompok pemuda. Marilah hal semacam ini kita jaga untuk dihindarkan, jangan sampai terjadi," kata Haryadi saat dihubungi detikcom, Senin (12/11).

Baca juga: Sudah Sepekan, Kasus Begal Payudara Bule di Yogya Belum Terungkap
Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas mendorong agar kasus ini diungkap. "Supaya dia (Pelaku begal payudara) tidak berulang kali melakukan hal yang seperti itu (Begal payudara)," kata Hemas, Minggu (11/11).

Hingga sebulan kemudian polisi mengaku masih belum bisa mengidentifikasi pelakunya. Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Armaini mengatakan bahwa hasil rekaman CCTV tak jelas sehingga bukti yang dikantongi minim.

Meski begitu dia menegaskan tak akan menutup kasus ini.

"Jadi begini, seandainya si pelaku ini mengulangi lagi perbuatannya dan kemudian perbuatan kedua tertangkap, nah apabila terbukti bahwa kejadian yang pertama juga dia pelakunya, itu dalam aturan pidana ada namanya pemberatan," kata Armaini, saat dihubungi detikcom, Selasa (4/12).

Kini kasus yang sama terjadi, lokasi masih sama di Prawirotaman. Di lokasi tersebut memang banyak ditemui turis mancanegara karena ada banyak hostel, hotel dan rumah makan di sana. Belum diketahui apakah peristiwa yang terungkap kali ini pelakunya sama dengan kasus pada tahun lalu.

Aksi begal payudara kembali terjadi pada bulan 13 dan 29 Juni 2019. Pelakunya seorang guru honorer, SP (37).

Kapolsek Mergangsan, Kompol Tri Wiratmo, menuturkan penangkapan SP bermula dari pengaduan korban dan warga Kampung Prawirotaman. Warga resah karena sudah dua kali turis asing yang melintas di area kampung payudaranya diremas oleh orang tak dikenal.

"Ini adalah tindak lanjut pengaduan warga negara asing, yaitu warga negara Australia dan warga negara Belanda yang pada saat itu memang berlibur di wilayah kita, di wilayah Yogya. Kebetulan (korban) nginep di wilayah Prawirotaman," ujarnya, Selasa (16/7).

Baca juga: Keterlaluan! Ini Pengakuan Guru Honorer yang Remas Payudara Turis di Yogya
Tersangka SP, kata Kompol Tri, selalu mengendarai sepeda motor ketika beraksi. Modusnya si tersangka terlebih dahulu mencari korban. Ketika menjumpai turis asing berjalan kaki seorang diri, SP dengan cepat melakukan aksi cabulnya lalu pergi.

Guru asal Seyegan, Kabupaten Sleman itu berhasil diamankan pada Senin (15/7). Tertangkapnya SP, lanjut Kompol Tri, tak lepas dari peran serta warga Kampung Prawirotaman. SP diamankan oleh warga karena gerak-geriknya dianggap mencurigakan.

"Jadi kemarin ada orang yang mencurigakan yang nongkrong, wira-wiri di sekitaran Prawirotaman terus diamankan oleh masyarakat bersama-sama kita dari kepolisian. Kita amankan dan kita introgasi. terus kita data," ungkapnya.

Baca juga: Cabul! Remas Payudara Bule, Guru Honorer di Yogya Diciduk Polisi
Kini tersangka SP masih ditahan di Mapolsek Mergangsan Kota Yogyakarta. Pria beristri dan beranak satu itu terancam hukuman dua tahun delapan bulan penjara.

Sementara tersangka SP kepada wartawan mengaku memiliki ketertarikan dengan turis mancanegara. Namun ia berdalih perbuatannya hanya karena iseng dan khilaf belaka.

"Karena rata-rata orang asing itu kan cantik. Biasanya kan (berpakaian) terbuka, tapi nggak ada unsur nafsu. Ya hanya sekedar iseng dan khilaf," kata tersangka SP sambil menundukkan kepalanya.


Simak Video "Turis Bule Jadi Korban 'Begal' Payudara di Yogya"

[Gambas:Video 20detik]



  • SHARE :