Makan Banyak Tapi Gak Gendut, Ini Penjelasan Secara Ilmiah

0
67

GREGET.co.id – Kegemukan atau Obesitas menjadi momok tersendiri bagi banyak orang. Beragam program diet mulai dari pengaturan pola makan hingga olah fisik tersedia dengan tujuan hidup sehat dan melawan kegemukan.

Penyebab kegemukan ini paling banyak adalah gaya hidup dan pola makan berlebihan. Namun ada orang yang meski makan banyak namun tidak gendut, bahkan dengan pola makan yang berlebih tanpa aturan, jenis orang-orang ini tidak mengalami kegemukan.

Ternyata hal tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah. Profesor nutrisi dan ilmu makanan dari University of Rhode Island, Kathleen Melanson, mengatakan bahwa kondisi ini disebabkan oleh banyak hal. “Ada faktor genetik, nutrisi, dan perilaku. Ketiga faktor ini bersifat relatif pada tiap individu, sehingga hasilnya pun berbeda,” tutur Melanson seperti dilansir oleh GREGET dari Live Science, Minggu (2/8/2020).

Banyak faktor yang mempengaruhi kegemukan tersebut, faktor yang tidak memiliki hubungan dengan tipe tubuh, metabolisme, atau genetik adalah persepsi. Melanson mengatakan bahwa seseorang yang tampak makan banyak tanpa bertambah berat badan sesungguhnya tidak makan lebih banyak dibanding Anda.

Misal, seseorang yang mengonsumsi es krim setiap hari mungkin mengurangi konsumsi karbohidrat pada makanan lainnya. “Terkadang jika Anda menghitung asupan kalori mereka, orang-orang ini tidak makan lebih banyak dibanding Anda,” ungkap Dr Frank Greenway, Chief Medical Officer di Pennington Biomedical Research Center. Aktivitas fisik juga menjadi pembeda untuk orang-orang ini.

Namun, hal itu tidak sebatas olahraga fisik atau di gym. “Beberapa orang hanya bergerak lebih banyak, meski mereka bukan atlet. Misal mereka memiliki profesi yang mengharuskan bergerak aktif, atau seorang ibu rumah tangga yang harus menjaga anak-anak berlarian sepanjang hari,” tutur Melanson. Ilustrasi olahraga Lihat Foto Ilustrasi olahraga(Shutterstock) Ada sebuah penelitian yang menyebutkan beberapa orang terlahir dengan kemampuan membakar kalori yang lebih cepat. Hal itu diungkapkan oleh Dr Ines Barroso, peneliti di University of Cambridge yang mempelajari obesitas dari sisi genetis.

Salah satu hormon paling penting yang berperan dalam rasa lapar adalah leptin. Hormon ini membantu untuk menentukan seberapa lapar kita untuk beberapa waktu mendatang. Terlepas dari semua itu, faktor genetik sangat berperan dalam kecenderungan seseorang menambah atau mengurangi berat badan.

Para peneliti telah mengidentifikasi lebih dari 250 DNA berbeda yang berhubungan dengan obesitas. Baca juga: Gen Kurus Ditemukan, Potensi Terapi Baru Atasi Obesitas di Masa Depan Dalam penelitian tersebut, para peneliti membandingkan 1.622 orang sehat dengan BMI (Body Mass Index) rendah terhadap 1.985 orang dengan obesitas parah dan 10.443 orang dengan berat badan normal.

Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa partisipan yang kurus memiliki lebih sedikit gen yang terkait dengan obesitas. Namun, gen saja tidak menentukan berat badan Anda. “Kami tidak menemukan gen yang secara eksklusif melindungi dari obesitas atau membuat seseorang rentan obesitas,” tutur Barroso.

Pada akhirnya, jawabannya adalah kecenderungan untuk menambah atau mempertahankan berat badan dipengaruhi oleh banyak faktor yang berada di dalam dan luar kendali kita. “Namun, seseorang yang cepat bertambah berat badannya bukan berarti dirinya kurang mengontrol diri. Penilaiannya tidak sama antara satu orang dengan orang lain,” paparnya.

Comments

0 comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here