Pertarungan terakhir Naruto dan Sasuke berakhir dengan ledakan emosi, luka, dan rekonsiliasi yang terasa final.
Namun ketika layar benar-benar gelap dan serial Naruto: Shippuden ditutup, ada satu hal besar yang justru tak pernah benar-benar selesai.
Sembilan tahun berlalu sejak episode terakhir itu tayang, tetapi perasaan ganjil di ujung cerita Naruto masih bertahan di benak banyak penggemarnya.
Padahal, seri ini pernah berdiri di puncak anime panjang dengan basis penonton lintas generasi, dari anak sekolah hingga orang dewasa yang tumbuh bersama Naruto Uzumaki.
Pertarungan terakhir Naruto melawan Sasuke Uchiha masih sering disebut sebagai salah satu duel terbaik dalam sejarah anime, bukan hanya karena skala visualnya, tetapi juga karena muatan emosional dua sahabat yang saling mengkhianati dan merindukan.
Namun setelah debu pertempuran itu mengendap, Naruto: Shippuden justru berjalan ke arah yang tak sepenuhnya sejalan dengan harapan penonton.
Alih-alih menutup kisah sesuai bab terakhir manga, anime memilih berlabuh pada adaptasi novel spin-off yang berfokus pada pernikahan Naruto dan Hinata.
Keputusan ini terdengar janggal, terutama bagi penonton yang mengikuti perjalanan Naruto sejak bocah yatim piatu yang bermimpi diakui hingga menjadi ninja terkuat di desanya.
Dalam manga, perjalanan itu berakhir jelas: Naruto akhirnya mencapai atau setidaknya menapaki mimpi menjadi Hokage, tujuan yang ia gaungkan sejak episode-episode awal.
Di versi anime, momen itu justru tak pernah benar-benar hadir.
Penonton yang hanya mengikuti Naruto: Shippuden dipaksa melompat ke seri lanjutan, Boruto, untuk melihat Naruto sebagai Hokage, itu pun dalam konteks yang berbeda dan sering kali kontroversial.
Studio Pierrot memilih jalur ini setelah manga Naruto tamat pada 2014, ketika mereka sudah bersiap melanjutkan waralaba lewat film Boruto: Naruto the Movie.
Film itu berfungsi sebagai epilog sekaligus jembatan menuju seri baru, sehingga episode-episode terakhir Shippuden diisi materi tambahan dan adaptasi novel.
Secara teknis, ini memang sebuah penutup, tetapi bukan penutup yang mengunci perjalanan karakter utama secara utuh.
Hubungan Naruto dan Hinata, meski penting, selama bertahun-tahun lebih sering menjadi lapisan samping daripada poros cerita.
Inti Naruto selalu tentang pencarian pengakuan, tekad untuk melampaui stigma, dan mimpi menjadi pemimpin desa yang dulu menolaknya.
Dengan tidak memperlihatkan apakah Naruto benar-benar mencapai atau bahkan mempertanyakan mimpi itu, Shippuden meninggalkan lubang emosional yang sulit diabaikan.
Bagi sebagian penggemar, Boruto mungkin cukup untuk menambalnya, tetapi reputasi seri lanjutan itu justru membuat banyak orang enggan melanjutkan.
Akibatnya, akhir Naruto terasa seperti kalimat yang dipotong sebelum titik.
Jika rumor tentang empat episode baru Naruto benar-benar terwujud, ada satu harapan sederhana yang terus bergaung di kalangan penggemar.
Bukan pertarungan baru atau musuh yang lebih kuat, melainkan satu adegan yang sejak lama ditunggu: Naruto Uzumaki berdiri sebagai Hokage, menutup kisah yang telah berjalan lebih dari satu dekade dengan kepastian.
*)Dilarang keras mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
