Menperin: Balai Kemenperin Perlu Berperan Strategis dalam Isu Food Security

Menperin: Balai Kemenperin Perlu Berperan Strategis dalam Isu Food Security

--

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus meningkatkan mutu pelayanan kepada sektor industri, termasuk dalam hal jasa pengujian. Di tengah dinamika situasi global, Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa yang dimiliki Kemenperin meningkatkan perannya dalam mendukung kekuatan sektor manufaktur di Indonesia.

“Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Agro (BBSPJIA) adalah salah satu balai besar yang dimiliki Kemenperin. Perannya menjadi sangat penting di kala terjadi dinamika global yang juga berdampak bagi Indonesia, yaitu food security. Karenanya, BBSPJIA perlu ikut berkontribusi dalam mitigasi ketahanan pangan,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat meninjau BBSPJIA di Bogor, Kamis (1/9).


Subsektor industri agro merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap PDB manufaktur, termasuk di dalamnya industri makanan dan minuman. Pada triwulan II – 2022, industri makanan dan minuman tumbuh 3,68% (yoy) dan memberikan kontribusi 38,38% bagi PDB industri pengolahan nonmigas, terbesar dibandingkan subsektor industri lainnya.

“Ke depan, kondisi global akibat dampak geopolitik Rusia-Ukraina dan juga di wilayah lain akan semakin menimbulkan tantangan bagi sektor industri. Sehingga amat penting untuk mendorong dan menyiapkan BBSPJIA untuk dapat mendukung pertumbuhan industri agro di Indonesia,” ujar Menperin.

Agus memberikan perhatian terhadap BBSPJIA untuk menjadi lembaga pengujian terdepan dengan dukungan peralatan instrumentasi yang lengkap sehingga dapat meningkatkan pelayanan yang lebih baik. Saat ini, BBSPJIA didukung dengan peralatan instrumentasi yang lengkap sehingga dapat meningkatkan pelayanan yang lebih baik. Peralatan laboratorium instrumentasi seperti Liquid Chromatography Mass Spectrometry (LC MS/ MS) dan Gas Chromatography Mass Spectrometry (GC MS/ MS) sangat penting untuk mendukung pengujian halal, pengujian mikotoksin yang menjadi persyaratan SNI dan ekspor.


Advertising
Advertising

“Pengujian pangan merupakan layanan primadona di BBSPJIA dengan dukungan 7 (tujuh) laboratorium, 195 komoditi dan lebih dari 300 parameter menjadikan BBSPJIA Jaminan Pangan Baik Indonesia,” jelas Kepala BBSPJIA Kemenperin Siti Rohmah Siregar.

Dalam mengembangkan metode pengujian atau peningkatan kompetensi, BBSPJIA melakukan kerja sama dengan lembaga di dalam maupun luar negeri. Salah satu contohnya yaitu BBSPJIA telah menjadi bagian dalam kerjasama ARISE Plus yang merupakan Kerjasama Ekonomi Indonesia dan Uni Eropa. BBSPJIA juga merupakan salah satu anggota Jejaring Laboratorium Pengujian Pangan Indonesia (JLPPI) yang telah ditetapkan menjadi Laboratorium Rujukan Pengujian Pangan Indonesia (LRPPI) pada tanggal 10 September 2018 oleh Komisi Laboratorium Pengujian Indonesia (KLPPI) untuk ruang lingkup parameter pengujian cemaran logam berat dan mikotoksin pada bahan baku dan bahan antara pangan.

“Lebih dari seratus tahun BBSPJIA memberikan karya dan menebarkan energi positifnya bagi pembangunan industri agro tanah air khususnya industri makanan dan minuman. Saat ini BBSPJIA juga menyiapkan diri untuk mendukung implementasi Making Indonesia 4.0, terutama bagi industri makanan dam minuman yang merupakan salah satu dari tujuh industri prioritas,” jelas Kepala BBSPJIA.

Kunjungi SMK terbaik di Indonesia

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Menperin juga melakukan peninjauan ke SMK SMAK Bogor, salah satu sekolah menengah vokasi di bawah Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin. Sekolah menengah tersebut merupakan peringkat satu nasional berdasarkan hasil nilai Ujian Tertulis Berbasis Komputer (UTBK) tahun 2022.

“Kita dapat melihat, SMK SMAK Bogor menjadi sekolah terbaik karena dilengkapi dengan sarana belajar dan praktik industri yang memadai dan kurikulum pendidikan yang mendukung kebutuhan industri,” ujar Menperin. SMK SMAK Bogor menerapkan kurikulum yang terintegrasi, antara kurikulum dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, industri internasional, serta Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI).

Lama pembelajaran di SMK SMAK Bogor adalah empat tahun, termasuk internship atau magang di industri selama enam bulan. Dari waktu ke waktu, sekolah melakukan sinkronisasi dengan industri untuk mengetahui kriteria SDM yang dibutuhkan serta teknologi yang digunakan di perusahaan. “Harapannya SDM yang dihasilkan mampu adaptif terhadap teknologi industri atau dunia kerja. Saat ini, lulusan SMK-SMAK Bogor dapat terserap 100% oleh perusahaan-perusahaan industri,” pungkas Menperin.

TAG:
Sumber: